19 Jan 2011

Teori Big Bang

BIG BANG, LEDAKAN YANG MENGHANCURKAN FAHAMAN MATERIALISME (1)

BY : HARUN YAHYA

Gagasan Kuno Abad 19: Alam Semesta Kekal
Gagasan yang umum di abad 19 adalah bahwa alam semesta merupakan kumpulan materi berukuran tak hingga yang telah ada sejak dulu kala dan akan terus ada selamanya. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini menolak keberadaan sang Pencipta dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir.

Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani Kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad 19, sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme dialektika Karl Marx.
Para penganut materalisme meyakini model alam semesta tak hingga sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Misalnya, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie, filosof materialis George Politzer mengatakan bahwa "alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan" dan menambahkan: "Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan".
Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad 19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Namun, sains dan teknologi yang berkembang di abad 20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.

Astronomi Mengatakan: Alam Semesta Diciptakan

Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi. Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini "bergerak menjauhi" kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah. Selama pengamatan oleh Hubble, cahaya dari bintang-bintang cenderung ke warna merah. Ini berarti bahwa bintang-bintang ini terus-menerus bergerak menjauhi kita.

Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus "mengembang".
Agar lebih mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang.

Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuwan terbesar abad 20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai 'kesalahan terbesar dalam karirnya'.

Apa arti dari mengembangnya alam semesta? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan menunjukkan bahwa 'titik tunggal' ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki 'volume nol', dan 'kepadatan tak hingga'. Alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.

Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan 'Big Bang', dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa 'volume nol' merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep 'ketiadaan', yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai 'titik bervolume nol'. Sebenarnya, 'sebuah titik tak bervolume' berarti 'ketiadaan'. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad 20, telah dinyatakan dalam Alqur'an 14 abad lampau: "Dia Pencipta langit dan bumi" (QS. Al-An'aam, 6: 101)
Teori Big Bang menunjukkan bahwa semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.
Big Bang, Fakta Menjijikkan Bagi Kaum Materialis

Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta telah 'diciptakan dari ketiadaan', dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah. Karena alasan ini, para astronom yang meyakini paham materialis senantiasa menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan penolakan ini terungkap dalam perkataan Arthur Eddington, salah seorang fisikawan materialis terkenal yang mengatakan: "Secara filosofis, gagasan tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh menjijikkan bagi saya".

Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal Inggris, Sir Fred Hoyle adalah termasuk yang paling merasa terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad 20, Hoyle mengemukakan suatu teori yang disebut steady-state yang mirip dengan teori 'alam semesta tetap' di abad 19. Teori steady-state menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan pandangan mereka.

Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di segenap penjuru alam semesta. Bukti yang 'seharusnya ada' ini pada akhirnya diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut 'radiasi latar kosmis', tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang. Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.

Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic Background Explorer. COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori Big Bang.

Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah menjadi helium.

Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang. (QS. Al-Mulk, 67:3)

Jun 11, 2007

18 Jan 2011

Scince Finds God


Sekian lama golongan Atheis dan Materialis yang berpaksi kepada kefahaman dan dalil tiadanya TUHAN- ..ALAM INI TERJADI DENGAN SENDIRINYA TANPA ADA APA-APA KUASA YANG MENGATURNYA SECARA BERSISTEM, STABIL, HARMONI lagi TERSUSUN. Kefahaman yang dipegang sekian lama dengan istilah :

STEADY - STATE ; fahaman materialisme- satu sistem pemikiran yang menganggap jirim atau benda sebagai kewujudan mutlak dan menafikan kewujudan yang lain darinya( apa-apa kuasa yang tidak dapat dicerap [ eg: KUASA TUHAN])

Penganut fahman ini yang juga bertunjangkan ATHEIS diaibkan perkembangan sains semasa semenjak 1998 apabila TEORI BANG secara saintifik terpaksa akur dan menerima hakikat alam ini dicipta oleh SANG PENCIPTA (ALLAH SWT) yang mengawal setiap sesuatu ..apatah lagi 300 billion galakasi dan 300 billion bintang pada setiap galaksi dengan sangat tersusun, sangat rumit, sangat hebat..yang pada mulanya ditakrif bermula dengan satu letupan. Kemudian berkembang menjadi alam semesta (rujuk teori big bang).

Namun dalam 1 persejuta atau satu per billion kes, tiada dijumpai letupan yang menatijahkan keseimbangan/ kestabilan. Letupan mestilah berselerak, bersepai, rawak dan mana ada susuan tetap. Tetapi berlaku pada kejadian alam ini - meletup dan menghasilkan galaksi-galaksi yang tersusun , harmoni , sangat rumit bahkan ada pula makhluk mampu menghuni sebuah planet di tengah-tengah pengembangan galaksi yang berusia billion tahun ini... Saintis akur :letupan alam ini dikawal KUASA YANG MAHA AGUNG.

artikel dibawah berkaitan dengan penemuan ini ...

NOTA: Artikel dibawah ditulis seorang penganut kristian. Laras bahasanya membawa kepada ajaran Kristian. Gunakan fakta-fakta yang dilampirkan untuk kepentingan ISLAM. Kita mengetahui dan beriman setiap sesuatu adalah dari ALLAH swt. Fakta ini sekadar mematikan hujah segelintir manusia berfahaman ATHEIS. Terlebih baik kelak , saya akan cuba kemukakan tulisan HARUN YAHYA...

SCIENCE FINDS GOD

The Achievements Of Modern Science Seem To Contradict Religion And Undermine Faith. But For A Growing Number Of Scientists, The Same Discoveries Offer Support For Spirituality And Hints Of The Very Nature Of God.

THE MORE DEEPLY SCIENTISTS see into the secrets of the universe, you’d expect, the more God would fade away from their hearts and minds. But that’s not how it went for Allan Sandage. Now slightly stooped and white-haired at 72, Sandage has spent a professional lifetime coaxing secrets out of the stars, peering through telescopes from Chile to California in the hope of spying nothing less than the origins and destiny of the universe. As much as any other 20th-century astronomer, Sandage actually figured it out: his observations of distant stars showed how fast the universe is expanding and how old it is (15 billion years or so). But through it all Sandage, who says he was “”almost a practicing atheist as a boy,” was nagged by mysteries whose answers were not to be found in the glittering panoply of supernovas. Among them: why is there something rather than nothing? Sandage began to despair of answering such questions through reason alone, and so, at 50 , he willed himself to accept God. “”It was my science that drove me to the conclusion that the world is much more complicated than can be explained by science,” he says. “”It is only through the supernatural that I can understand the mystery of existence.”

Something surprising is happening between those two old warhorses science and religion.

Historically, they have alternated between mutual support and bitter enmity. Although religious doctrine midwifed the birth of the experimental method centuries ago (following story), faith and reason soon parted ways. Galileo, Darwin and others whose research challenged church dogma were branded heretics, and the polite way to reconcile science and theology was to simply agree that each would keep to its own realm: science would ask, and answer, empirical questions like “”what” and “”how”; religion would confront the spiritual, wondering “”why.” But as science grew in authority and power beginning with the Enlightenment, this detente broke down. Some of its greatest minds dismissed God as an unnecessary hypothesis, one they didn’t need to explain how galaxies came to shine or how life grew so complex. Since the birth of the universe could now be explained by the laws of physics alone, the late astronomer and atheist Carl Sagan concluded, there was “”nothing for a Creator to do,” and every thinking person was therefore forced to admit “”the absence of God.” Today the scientific community so scorns faith, says Sandage, that “”there is a reluctance to reveal yourself as a believer, the opprobrium is so severe.”

Some clergy are no more tolerant of scientists. A fellow researcher and friend of Sandage’s was told by a pastor, “”Unless you accept and believe that the Earth and universe are only 6,000 years old [as a literal reading of the Bible implies], you cannot be a Christian.” It is little wonder that people of faith resent science: by reducing the miracle of life to a series of biochemical reactions, by explaining Creation as a hiccup in space-time, science seems to undermine belief, render existence meaningless and rob the world of spiritual wonder.

But now “”theology and science are entering into a new relationship,” says physicist turned theologian Robert John Russell, who in 1981 founded the Center for Theology and the Natural Sciences at the Graduate Theological Union in Berkeley. Rather than undercutting faith and a sense of the spiritual, scientific discoveries are offering support for them, at least in the minds of people of faith. Big-bang cosmology, for instance, once read as leaving no room for a Creator, now implies to some scientists that there is a design and purpose behind the universe. Evolution, say some scientist-theologians, provides clues to the very nature of God. And chaos theory, which describes such mundane processes as the patterns of weather and the dripping of faucets, is being interpreted as opening a door for God to act in the world.

From Georgetown to Berkeley, theologians who embrace science, and scientists who cannot abide the spiritual emptiness of empiricism, are establishing institutes integrating the two. Books like “”Science and Theology: The New Consonance” and “”Belief in God in an Age of Science” are streaming off the presses. A June symposium on “”Science and the Spiritual Quest,” organized by Russell’s CTNS, drew more than 320 paying attendees and 33 speakers, and a PBS documentary on science and faith will air this fall.

In 1977 Nobel physicist Steven Weinberg of the University of Texas sounded a famous note of despair: the more the universe has become comprehensible through cosmology, he wrote, the more it seems pointless. But now the very science that “”killed” God is, in the eyes of believers, restoring faith. Physicists have stumbled on signs that the cosmos is custom-made for life and consciousness. It turns out that if the constants of nature–unchanging numbers like the strength of gravity, the charge of an electron and the mass of a proton–were the tiniest bit different, then atoms would not hold together, stars would not burn and life would never have made an appearance. “”When you realize that the laws of nature must be incredibly finely tuned to produce the universe we see,” says John Polkinghorne, who had a distinguished career as a physicist at Cambridge University before becoming an Anglican priest in 1982, “”that conspires to plant the idea that the universe did not just happen, but that there must be a purpose behind it.” Charles Townes, who shared the 1964 Nobel Prize in Physics for discovering the principles of the laser, goes further: “”Many have a feeling that somehow intelligence must have been involved in the laws of the universe.”

Although the very rationality of science often feels like an enemy of the spiritual, here, too, a new reading can sustain rather than snuff out belief. Ever since Isaac Newton, science has blared a clear message: the world follows rules, rules that are fundamentally mathematical, rules that humans can figure out. Humans invent abstract mathematics, basically making it up out of their imaginations, yet math magically turns out to describe the world. Greek mathematicians divided the circumference of a circle by its diameter, for example, and got the number pi, 3.14159 . . . . Pi turns up in equations that describe subatomic particles, light and other quantities that have no obvious connections to circles. This points, says Polkinghorne, “”to a very deep fact about the nature of the universe,” namely, that our minds, which invent mathematics, conform to the reality of the cosmos. We are somehow tuned in to its truths. Since pure thought can penetrate the universe’s mysteries, “”this seems to be telling us that something about human consciousness is harmonious with the mind of God,” says Carl Feit, a cancer biologist at Yeshiva University in New York and Talmudic scholar.

To most worshipers, a sense of the divine as an unseen presence behind the visible world is all well and good, but what they really yearn for is a God who acts in the world. Some scientists see an opening for this sort of God at the level of quantum or subatomic events. In this spooky realm, the behavior of particles is unpredictable. In perhaps the most famous example, a radioactive element might have a half-life of, say, one hour. Half-life means that half of the atoms in a sample will decay in that time; half will not. But what if you have only a single atom? Then, in an hour, it has a 50-50 chance of decaying. And what if the experiment is arranged so that if the atom does decay, it releases poison gas? If you have a cat in the lab, will the cat be alive or dead after the hour is up? Physicists have discovered that there is no way to determine, even in principle, what the atom would do. Some theologian-scientists see that decision point–will the atom decay or not? will the cat live or die?–as one where God can act. “”Quantum mechanics allows us to think of special divine action,” says Russell. Even better, since few scientists abide miracles, God can act without violating the laws of physics.

An even newer science, chaos theory, describes phenomena like the weather and some chemical reactions whose exact outcomes cannot be predicted. It could be, says Polkinghorne, that God selects which possibility becomes reality. This divine action would not violate physical laws either.

Most scientists still park their faith, if they have it, at the laboratory door. But just as belief can find inspiration in science, so scientists can find inspiration in belief. Physicist Mehdi Golshani of Sharif University of Technology in Tehran, drawing from the Koran, believes that natural phenomena are “”God’s signs in the universe,” and that studying them is almost a religious obligation. The Koran asks humans to “”travel in the earth, then see how He initiated the creation.” Research, Golshani says, “”is a worship act, in that it reveals more of the wonders of God’s creation.” The same strain runs through Judaism. Carl Feit cites Maimonides, “”who said that the only pathway to achieve a love of God is by understanding the works of his hand, which is the natural universe. Knowing how the universe functions is crucial to a religious person because this is the world He created.” Feit is hardly alone. According to a study released last year, 40 percent of American scientists believe in a personal God–not merely an ineffable power and presence in the world, but a deity to whom they can pray.

To Joel Primack, an astrophysicist at the University of California, Santa Cruz, “”practicing science [even] has a spiritual goal”–namely, providing inspiration. It turns out, explains Primack, that the largest size imaginable, the entire universe, is 10 with 29 zeros after it (in centimeters). The smallest size describes the subatomic world, and is 10 with 24 zeros (and a decimal) in front of it. Humans are right in the middle. Does this return us to a privileged place? Primack doesn’t know, but he describes this as a “”soul-satisfying cosmology.”

Although skeptical scientists grumble that science has no need of religion, forward-looking theologians think religion needs science. Religion “”is incapable of making its moral claims persuasive or its spiritual comfort effective [unless] its cognitive claims” are credible, argues physicist-theologian Russell. Although upwards of 90 percent of Americans believe in a personal God, fewer believe in a God who parts seas, or creates species one by one. To make religions forged millenniums ago relevant in an age of atoms and DNA, some theologians are “”incorporat[ing] knowledge gained from natural science into the formation of doctrinal beliefs,” says Ted Peters of Pacific Lutheran Seminary. Otherwise, says astronomer and Jesuit priest William Stoeger, religion is in danger of being seen, by people even minimally acquainted with science, “”as an anachronism.”

Science cannot prove the existence of God, let alone spy him at the end of a telescope. But to some believers, learning about the universe offers clues about what God might be like. As W. Mark Richardson of the Center for Theology and the Natural Sciences says, “”Science may not serve as an eyewitness of God the creator, but it can serve as a character witness.” One place to get a glimpse of God’s character, ironically, is in the workings of evolution. Arthur Peacocke, a biochemist who became a priest in the Church of England in 1971, has no quarrel with evolution. To the contrary: he finds in it signs of God’s nature. He infers, from evolution, that God has chosen to limit his omnipotence and omniscience. In other words, it is the appearance of chance mutations, and the Darwinian laws of natural selection acting on this “”variation,” that bring about the diversity of life on Earth. This process suggests a divine humility, a God who acts selflessly for the good of creation, says theologian John Haught, who founded the Georgetown (University) Center for the Study of Science and Religion. He calls this a “”humble retreat on God’s part”: much as a loving parent lets a child be, and become, freely and without interference, so does God let creation make itself.

It would be an exaggeration to say that such sophisticated theological thinking is remaking religion at the level of the local parish, mosque or synagogue. But some of these ideas do resonate with ordinary worshipers and clergy. For Billy Crockett, president of Walking Angel Records in Dallas, the discoveries of quantum mechanics that he reads about in the paper reinforce his faith that “”there is a lot of mystery in the nature of things.” For other believers, an appreciation of science deepens faith. “”Science produces in me a tremendous awe,” says Sister Mary White of the Benedictine Meditation Center in St. Paul, Minn. “”Science and spirituality have a common quest, which is a quest for truth.” And if science has not yet influenced religious thought and practice at the grass-roots level very much, just wait, says Ted Peters of CTNS. Much as feminism sneaked up on churches and is now shaping the liturgy, he predicts, “”in 10 years science will be a major factor in how many ordinary religious people think.”

Not everyone believes that’s such a hot idea. “”Science is a method, not a body of knowledge,” says Michael Shermer, a director of the Skeptics Society, which debunks claims of the paranormal. “”It can have nothing to say either way about whether there is a God. These are two such different things, it would be like using baseball stats to prove a point in football.” Another red flag is that adherents of different faiths–like the Orthodox Jews, Anglicans, Quakers, Catholics and Muslims who spoke at the June conference in Berkeley–tend to find, in science, confirmation of what their particular religion has already taught them.

Take the difficult Christian concept of Jesus as both fully divine and fully human. It turns out that this duality has a parallel in quantum physics. In the early years of this century, physicists discovered that entities thought of as particles, like electrons, can also act as waves. And light, considered a wave, can in some experiments act like a barrage of particles. The orthodox interpretation of this strange situation is that light is, simultaneously, wave and particle. Electrons are, simultaneously, waves and particles. Which aspect of light one sees, which face an electron turns to a human observer, varies with the circumstances. So, too, with Jesus, suggests physicist F. Russell Stannard of England’s Open University. Jesus is not to be seen as really God in human guise, or as really human but acting divine, says Stannard: “”He was fully both.” Finding these parallels may make some people feel, says Polkinghorne, “”that this is not just some deeply weird Christian idea.”

Jews aren’t likely to make the same leap. And someone who is not already a believer will not join the faithful because of quantum mechanics; conversely, someone in whom science raises no doubts about faith probably isn’t even listening. But to people in the middle, for whom science raises questions about religion, these new concordances can deepen a faith already present. As Feit says, “”I don’t think that by studying science you will be forced to conclude that there must be a God. But if you have already found God, then you can say, from understanding science, “Ah, I see what God has done in the world’.”

In one sense, science and religion will never be truly reconciled. Perhaps they shouldn’t be. The default setting of science is eternal doubt; the core of religion is faith. Yet profoundly religious people and great scientists are both driven to understand the world. Once, science and religion were viewed as two fundamentally different, even antagonistic, ways of pursuing that quest, and science stood accused of smothering faith and killing God. Now, it may strengthen belief. And although it cannot prove God’s existence, science might whisper to believers where to seek the divine.

AN UNEASY TRUCE

Throughout Western history, science and religion have been like siblings–sometimes at loggerheads, sometimes on common ground.

800-1000 The Islamic Empire, where it is believed that astronomy and mathematics provided a glimpse of God, is for centuries the only repository of many Greek and Egyptian texts.

1268-73 In writings on Aristotle’s physical studies, Thomas Aquinas synthesizes scientific inquiry with Christian thought. After him, medieval scientists see their role as uncovering the divine plan.

1543 Copernicus publishes “De Revolutionibus.” It concludes that the earth revolves around the sun, challenging man’s exalted place at the center of God’s plan of the universe.

1633 Galileo is censured by the Inquisition for writing about and teaching the Copernican system against papal orders. He’s made to recant and is placed under house arrests.

1687 Isaac Newton’s gravitational theory, published in the “Principia,” completes the mechanistic vision of the cosmos. Newton leaves in a sliver of God–as the “first cause” of the universe.

1802 In “Research on the Organization of Living Bodies,” the chevalier Lamarck posits an evolutionary view of animal species–contradicting the idea that God created them in immutable, constant form.

1842 Richard Owen determines that recently found fossils belong to an extinct animal group he calls dinosaurs. Some see further evidence of mutating species, others the effects of Noah’s flood.

1859 In “Origin of Species,” Charles Darwin concludes that species evolve and that change is driven by variations in offspring that are either favored or eliminated in the struggle for survival.

1871 Darwin publishes “The Descent of Man,” in which he undermines the Biblical doctrine that humans are a divine creation. Instead, he argues, mankind evolved from apes.

1905 John William Strutt determines the age of a rock: 2 billion years, officially disproving James Ussher’s 1650 assertion that, according to Genesis, the universe was created on Oct. 22, 4004 B.C.

1916 Albert Einstein’s groundbreaking theories of relativity reject Newton’s carefully ordered universe. “Science without religion is lame. Religion without science is blind,” he later says.

1925 John Scopes, a high-school teacher in Tennessee, is indicted for teaching evolutionary theory. Scopes–along with Darwinism itself–is put on trial and convicted.

1948 George Gamow coins the term “big bang” to describe the theory that the universe began in a primeval explosion. An instantaneous creation leaves open the idea of a creator.

1965 Arno Penzias and Robert Wilson find that space is filled with background radiation, a discovery supporting the big-bang model. In 1989, the COBE satellite makes an image of this radiation.

1992 Pope John Paul II apologizes for the Roman Catholic Church’s condemnation of Galileo. Four years later, he endorses evolution as part of God’s master plan.

CHARLES TOWNES

PHYSICIST AND CHRISTIAN

He shared the 1964 Nobel Prize in Physics for discovering the principles that underlie the laser. “As a religious person, I strongly sense. . .the presence and actions of a creative being far beyond myself and yet always personal and close by,” he says. Now at the University of California, Berkeley, Townes believes that recent discoveries in cosmology reveal “a universe that fits religious views”–specifically, that “somehow intelligence must have been involved in the laws of the universe.”

WILLIAM STOEGER

ASTRONOMER AND JESUIT PRIEST

Stoeger, who joined the Jesuits at 17, now teaches at the University of Arizona and is a member of the Vatican Observatory. “I did have one conflict between science and religion, in sixth or seventh grade,” he says. “I got a book on paleontology from my uncle Don, so I read it only at night when no-one else was around. This conflict [between evolution and Genesis] was wonderfully resolved in high school,” Stoeger says, when a priest showed him that the Bible could be read metaphorically.

S. JOCELYN BELL BURNELL

ASTRONOMER AND QUAKER

For some scholars, there are limits to the consilience of research and faith. Bell Burnell, discoverer of the spinning stars called pulsars, is active in the Religious Society of Friends. She wills herself to accept Christian theology, she says, because the absence of belief is too lonely and frightening a prospect. But she keeps her beliefs separate from her astronomy work at England’s Open University. “Would I do science differently if I weren’t a Quaker?” she asks. “I don’t think so.”

JOHN POLKINGHORNE

PHYSICIST TURNED PRIEST

After a distinguished career in particle physics, Polkinghorne was ordained an Anglican priest in 1982. “For me,” he explains, the fundamental component of belief in God “is that there is a mind and a purpose behind the universe.” He sees hints of that divine presence in how abstract mathematics can penetrate the universe’s secrets, which suggests that a rational mind created the world. As for purpose, he sees it in how nature is fine-tuned to allow life and consciousness to emerge. MARIAN WESTLEY © 1998

http://www.newsweek.com/id/93188

http://www.newsweek.com/id/93188/page/8

16 Jan 2011

Tangan IBLIS melagakan persaudaaraan MALAYSIA-INDONESIA

SUMBER:umat terakhir

Mekanisme pertelingkahan rakyat Indonesia-Malaysia


APAKAH mekanisme yang menyumbang kepada ketegangan antara rakyat republik Indonesia dengan masyarakat demokrasi berpelembagaan persekutuan Malaysia? Ketegangan yang timbul itu tidak tercetus dengan sendiri, mesti ada mekanisme yang menjadi pencetusnya. Mesti ada tangan-tangan yang sangat galak untuk mencipta ketegangan itu. Juga mesti ada bibir-bibir yang tersenyum setiap kali ketegangan itu tercetus.

Siapakah pula pemilik tangan-tangan dan bibir-bibir itu? Di manakah mereka berada? Adakah mereka hanya berada di Indonesia? Atau mereka juga berada di Malaysia? Mungkin juga orang-orang mereka sentiasa ada di segenap rantau ini. Siapakah mereka sebenarnya? Apa kemahuan mereka? Mengapa mereka berbuat begitu?

Keberadaan bangsa-bangsa bersaudara di Kepulauan Nusantara seperti Melayu, Jawa, Bugis, Minang dan sebagainya melalui sejarah yang sangat panjang di rantau sebelah sini. Sebelum kedua-dua buah negara itu merdeka, belum ada istilah bangsa Indonesia atau juga negara Malaysia. Tidak pernah ada sebelum itu.

Untuk mengetahui keterangan-keterangan sejarah mengenai kedua-dua buah negara bersaudara ini, bacalah teks-teks sejarah klasik, janganlah berasa bosan atau mengantuk apabila membaca prosa-prosa klasik, bacalah untuk mengenal warisan persaudaraan kita.

Saranan Gabungan Persatuan Penulis Nasional Malaysia (Gapena) dalam laporan akhbar 16 Januari 2010 supaya sejarah hubungan Malaysia-Indonesia sejak berkurun lama didedahkan kepada rakyat kedua-dua negara itu wajar dihormati bagi memulihkan ketegangan yang semakin membarah.

Mengenali sejarah akan membuatkan rakyat Indonesia dan Malaysia saling kenal mengenali susur galur warisan kita. Orang yang kenal sejarah tidak akan menuduh saudaranya maling, anjing atau sebagainya dengan panggilan yang buruk-buruk.

Tuduhan itu tidak akan dibuat oleh orang yang mengenal sejarah kedua-dua negara ini yang saling bersaudara sejak berabad lama, tuduhan yang umpama meludah ke langit, tuduhan itu hanya dibuat oleh orang yang sudah terkena dan diperbodohkan oleh tangan-tangan kumpulan yang suka melihat pergeseran saudara ini.

Kita bukan mahu belajar sejarah tamadun lampau Indonesia dan Malaysia dalam artikel kali ini. Jika mahu belajar juga, carilah sumber sejarah yang boleh dirujuk. Kita hanya mahu memahami apakah mekanisme yang memecah belahkan rakyat kedua-dua buah negara ini. Semoga selepas memahami mekanisme ini, kita sama ada rakyat Indonesia yang majoriti beragama Islam dan juga Malaysia akan berusaha keras merawat ketegangan ini. Semoga gerakan tangan-tangan jahat itu akan ‘kudung’ dan bibir-bibir serta lidah-lidah mereka akan jadi ‘bisu’ apabila kita menemui semula titik persamaan wajar dalam mekanisme kekuatan kita semua.

Melalui sumber-sumber pemberi maklumat (bukan seperti perisik) yang diperoleh dari Indonesia, Singapura dan Malaysia, terdapat lebih daripada dua gerakan besar yang gigih bekerja untuk melihat Malaysia dan Indonesia jatuh ranap. Persaudaraan antara kedua-dua buah negara itu perlu ditamatkan dengan pertelingkahan, seboleh-bolehnya sehingga melibatkan pertumpahan darah. Jahat sungguh tangan-tangan itu. Mereka mahu lihat manusia Muslim di rantau sebelah sini saling berbunuhan, kami juga mungkin dibunuh mereka memandangkan kami juga tersenarai sebagai wanted persons di negara kiblat mereka iaitu di Israel. Wahai pemilik tangan-tangan jahat, tangan-tangan kamu akan jadi kudung dan lidah kamu akan jadi bisu apabila kami kembali bersatu.
--

Mereka wujud dalam persekitaran politik Indonesia, Malaysia dan Singapura

Gerakan kumpulan ini sudah wujud seawal peristiwa Konfrontasi Indonesia-Malaysia pada sekitar 1962 hingga 1966 yang dicetuskan oleh Presiden Sukarno bagi membantah penubuhan Malaysia yang memasukkan Sarawak dan Borneo British Utara (Sabah) ke dalam Malaysia.

Kita tidak melihat kepada Sukarno, tidak sama sekali. Kita tidak menuduh Sukarno mempunyai agenda peribadi selain menubuhkan Indonesia Raya. Tidak, rakyat Indonesia tolong jangan salah faham maksud saya. Kita melihat kepada mekanisme yang mendorong Sukarno untuk melancarkan konfrontasi terhadap Malaysia. Mekanisme yang berpunca daripada sekumpulan orang yang mempengaruhi Sukarno supaya berpendapat bahawa Malaysia adalah rekaan British untuk mengukuhkan kuasa imperial. Ketika itu, masing-masing baru merdeka dan tiada garis sempadan yang jelas untuk mengatakan sesebuah wilayah itu milik mana-mana negara termasuk Filipina yang juga menuntut Sabah.

Tercetus manipulasi mengatakan pengerak demontrasi anti-Indonesia meminta Perdana Menteri Malaysia ketika itu, Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj memijak-pijak lambang negara Indonesia serta gambar Sukarno dan akhirnya menimbulkan kemarahan Sukarno untuk melancarkan kempen Ganyang Malaysia. Tidak dipastikan kesahihan cerita yang mengatakan Tunku Abdul Rahman memijak seperti diminta penggerak demonstrasi. Cerita itu kemudian sampai ke pengetahuan Sukarno dan Ganyang Malaysia dilancarkan. Juga sehingga hari ini, tiada bukti kukuh gambar foto atau saksi-saksi untuk mengatakan cerita itu benar. Cerita itu digerakkan oleh sekumpulan tangan-tangan dan lidah-lidah jahat yang dimaksudkan.

Tangan-tangan dan lidah-lidah jahat itu yang berada di Indonesia, Malaysia dan Singapura berterusan mencetuskan api kemarahan. Kumpulan itu adalah sisa-sisa penggerak Freemason Indonesia bawaan Belanda yang diharamkan oleh Sukarno sendiri pada Januari 1961.

Kumpulan ini selepas diharamkan oleh Sukarno melancarkan tekad untuk menjatuh ranapkan Indonesia dengan mengheret negara itu supaya bergeser dengan negara-negara jirannya seperti Malaysia dan Brunei. Malah, institusi Kesultanan Brunei juga cuba digulingkan semasa Konfrontasi dengan cara mengupah kumpulan pemberontak Kalimantan untuk menculik Sultan Brunei. Kini, Kesultanan Melayu di Malaysia juga sedang cuba dihapuskan oleh proksi-proksi Freemason Indonesia di Malaysia.

Matlamat mereka ialah dendam untuk meranapkan Indonesia. Ia adalah dendam balas kepada Sukarno kerana mengharamkan gerakan mereka di Indonesia. Keputusan Sukarno mengharamkan Freemason di Indonesia dilihat seolah-olah menjolok sarang tebuan meskipun niat Sukarno ialah untuk tidak menjadikan Indonesia sebagai pangkalan Yahudi terbesar di rantau ini. Disebabkan itu, mereka mahu melihat Indonesia bertelingkah dengan jiran-jirannya yang seboleh-bolehnya mahu melihat ada kejadian berbunuh-bunuhan sebagai balasan kepada tindakan Sukarno dan rakyat Indonesia yang membenci Freemason Indonesia.

Untuk menjadikan matlamat mereka berjaya, proksi-proksi mereka ditempatkan di dalam jentera kepimpinan Sukarno secara senyap. Matlamat kecilnya melalui penempatan proksi ini pula ialah untuk mempengaruhi setiap keputusan Sukarno. Oleh sebab itu di dalam perenggan sebelum ini ditegaskan bahawa kita tidak melihat Sukarno dalam situasi ini, kita sebenarnya melihat proksi-proksi Freemason Indonesia yang menyelinap masuk ke dalam kepimpinan Sukarno. Kita tidak menyalahkan Sukarno kerana dia sendiri termakan hasutan proksi-proksi Freemason dalam jentera pemerintahannya.

Kumpulan ini jugalah yang mencipta cerita bahawa Tunku Abdul Rahman memijak gambar Sukarno dan lambang Garuda Pancasila sehingga menimbulkan ketegangan dan kemarahan hampir seluruh rakyat Indonesia terhadap cadangan penubuhan Malaysia.

Mereka jugalah yang menubuhkan Partai Komunis Indonesia (PKI), gerila Indonesia Ganyang Malaysia, Pemberontak Kalimantan Utara (TKU) dan sebagainya yang bertujuan untuk mengalih tumpuan Indonesia daripada keperluan pembangunan ekonomi negara itu selepas merdeka kepada gerakan ketenteraan yang sia-sia. Akibatnya, ekonomi Indonesia diabaikan sejak awal manakala tumpuan diberikan sepenuhnya terhadap kegiatan konfrontasi yang merugikan pembangunan rakyat Indonesia sendiri.

Selepas Freemason Indonesia bawaan Belanda diharamkan di negara itu, proksi-proksi mereka berpecah namun masih berpegang kepada matlamat awal. Kumpulan ini sejak sekitar 1961 dikesan menyelinap masuk ke Singapura, Filipina dan juga Malaysia. Beberapa proksi utama juga masih berada di Indonesia. Matlamatnya masih sama di rantau ini, ia tidak lebih daripada mewujudkan keadaan kucar-kacir melalui pelbagai permainan manipulasi dan politik.

Proksi-proksi itu kemudian dikesan giat mengembangkan pengaruh melalui jenama-jenama baru di negara-negara baru (Singapura, Malaysia dan Filipina) seperti Kelab Rotary dan sebagainya sejak penghujung 1970-an dan awal 1980-an. Tidak kurang pula ada yang bertindak menubuhkan parti-parti politik dengan melantik sub-sub proksi untuk mengemudi parti-parti politik terlibat. Ada juga yang melantik proksi dalam parti-parti politik sedia ada di negara-negara yang baru dimasuki.

Parti-parti politik di negara-negara yang baru diselinap itu kemudian sengaja dibiar berkembang sambil berselang-seli dengan pergolakan dalaman. Ia memberi peluang baru kepada perpecahan parti-parti politik berkenaan apabila berlaku pergolakan. Pergolakan dalaman parti politik kemudian memberi peluang kepada perpecahan dalaman parti yang membawa kepada penubuhan parti baru. Individu-individu parti yang sudah terperngaruh dan sebilangan proksi-proksi Freemason itu bertindak keluar daripada parti dan menubuhkan parti baru. Penubuhan parti baru pula akan mencipta sub kumpulan penyokong yang baru. Pada masa yang sama, proksi yang tidak keluar daripada parti asal akan terus mempengaruhi untuk mencorakkan hala tuju parti sedia ada, manakala proksi yang keluar parti dan menubuhkan parti baru pula akan mencorakkan hala tuju lain yang sebenarnya sama tetapi tampaknya seperti ada beza walhal ia tetap sama.

Ia mewujudkan suasana kesan berganda dan kesan berangkai. Keadaan itu boleh disamakan seperti sebotol nila yang tumpah di atas meja sehingga titisannya akan menitis memasuki setiap baldi susu yang berada di bawah meja itu tadi. Ia juga seperti seekor kerbau yang diseliputi selut selepas berkubang dan mengotorkan kerbau-kerbau lain apabila ia mahu berkawan dengan kawanan kerbau yang masih belum berkubang.

Apabila proksi-proksi itu keluar parti dan menubuhkan parti baru, ia secara langsung menjadikan hampir semua parti mempunyai pengaruh mereka. Lihatlah keadaan kes semasa di Malaysia sendiri, apabila berlaku perpecahan atau tindakan keluar parti oleh seorang tokoh pimpinan, maka tokoh pimpinan itu akan menubuhkan parti baru, bukan satu parti yang ditubuhkan, tetapi sudah banyak parti baru ditubuhkan hasil daripada pergolakan dalaman satu parti asal.

Di Indonesia, setiap calon presiden dalam pilihanraya (pilihan umum) akan berusaha mencari pengaruh dengan pelbagai ideologi untuk mempengaruhi rakyat. Ada yang bersikap ekstrem dengan cuba menyambung semula episod lama Ganyang Malaysia, ada juga yang bersongkok dan cuba mempengaruhi pengundi dengan idea untuk berperang dengan Malaysia dan ada juga yang memancing undi dengan memainkan isu kekeruhan hubungan Indonesia-Malaysia, anda pasti sudah dapat meneka siapa mereka dan apa niat mereka serta siapa yang menaja mereka berkempen.

Di Singapura pula, apabila wujud seorang tokoh tidak sebulu dengan ketua dalam kerajaannya, dia akan memulakan kempen secara tidak langsung untuk mendapatkan sokongan. Ia kelihatan normal kerana seseorang yang disisihkan akan mencari orang lain (pengaruh sokongan) yang percaya kepadanya, namun ada beberapa persamaan yang diperjuangkan oleh tokoh yang disisihkan itu dengan bekas ketuanya. Malah, serpihan politik dari Singapura juga terpelanting sampai ke Malaysia. Ia berkaitan kemampuan akauntabiliti untuk mengawal sejumlah skala pengikut.

Falsafahnya,
Seseorang tidak akan mampu mengawal semua orang. Jadi, diperlukan lebih daripada ‘seseorang’ untuk mengawal semua orang. Maksudnya, perlu ada lebih ramai ‘seseorang’ untuk mengawal semua orang. Faham?

Ia berkenaan pengertian maksud ‘somebody’ ‘everybody’ dan ‘power’. Dalam situasi politik kemanusiaan, somebody sentiasa merujuk kepada seorang individu dan dia mempunyai kuasa mempengaruh dan memimpin, manakala everybody pula ialah nobody atau orang yang tidak mempunyai kuasa pengaruh politik dan boleh dipengaruhi.

Proksi-proksi tadi akan berpecah dan terus berpecah untuk menjadi ‘seseorang’. Biarpun proksi itu hanya mampu menjana pengikut seramai 100,000 orang atau 1,000,000 orang, ia sudah cukup untuk setiap proksi mengawal semua orang jika setiap proksi ada pengikut 100,000 orang atau 1,000,000 orang. Bagaimana dikatakan mereka mengawal semua orang kerana semua orang dilihat seperti sudah tidak boleh dikawal? Itulah cara mereka mengawal semua orang dengan memastikan semua orang tidak boleh bersatu dan berpecah belah, lalu menjadi lemah.
--

Melemahkan negara-negara di rantau sebelah sini yang diduduki orang Islam

Ada ramai orang Islam di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Filipina. Mereka mahu orang-orang Islam ini lemah supaya keseluruhan umat Islam di rantau sebelah sini juga akan lemah dan mereka boleh berkuasa sebagai bayaran kepada kejatuhan mereka di Indonesia semenjak zaman Sukarno. Kami bukan pro-Sukarno atau pro mana-mana pihak, tetapi lebih kepada anti-tangan jahat.

Wahai rakyat Indonesia dan Malaysia, lihat sahaja isu Kumpulan Bendera di Indonesia yang sentiasa mencari peluang untuk mencetuskan pergeseran antara kedua-dua buah negara bersaudara ini. Lihat siapa ketua yang menggerakkan Kumpulan Bendera, dia bukan orang Islam, tetapi dia penganut agama Nasrani. Malangnya, kata-kata propaganda dan hasutan yang diucapkan oleh ketua Kumpulan Bendera ini berjaya mempengaruhi kebanyakan rakyat Indonesia yang beragama Islam untuk memusuhi saudara Islam mereka di Malaysia. Apakah yang akan terjadi apabila orang Islam dipimpin oleh orang kafir? Mungkin blog ini juga akan digodam atau di-hacked oleh black hat hackers mereka selepas keluarnya artikel ini.

Hasilnya, orang Islam mudah dipengaruhi oleh kumpulan-kumpulan seperti itu untuk memusuhi saudara Islam mereka di rantau ini khususnya Malaysia melalui manipulasi isu-isu yang remeh temeh, isu-isu red-herring yang mengalih tumpuan umat Islam untuk mengukuhkan tali persaudaraan yang diperintahkan Allah.

Mereka daripada banyak kumpulan yang menyalakan api persengketaan antara Indonesia-Malaysia adalah sisa-sisa daripada Freemason Indonesia bawaan Belanda sejak diharamkan oleh Sukarno pada 1961. Tidak mahu menyentuh dasar Pancasila yang entah angkara pengaruh siapa sehingga bagaimana boleh wujud di Indonesia, tidak mahu menyentuh soal itu kerana membabitkan hal dalaman negara itu. Namun, adakah Pancasila itu dari pengaruh suruhan Islam di negara yang paling ramai penganut Islam? Tidak mahu menyentuh soal itu dengan pendapat peribadi. Umat Islam di Indonesia juga ada pendapat masing-masing mengenai dasar itu.

Gerakan Freemason Indonesia yang akhirnya membuka tapak di Singapura, Malaysia dan Filipina menjadi mekanisme dalam isu ini. Mereka kemudian meluaskan rancangan melalui bersekutu dengan Freemason yang sedia ada di negara-negara yang dimasuki. Umat Islam di negara-negara yang diduduki mereka ini kelihatan seperti hilang punca dan gagal menemui titik persamaan untuk kembali bersatu.

Isu umat Islam Moro di Filipina dipandang acuh tak acuh oleh Malaysia dan Indonesia yang masih belum selesai. Manakala isu umat Islam yang berpecah belah di Malaysia angkara politik juga tidak dipandang oleh cendiakawan Islam di Indonesia untuk sekurang-kurangnya memberi nasihat atau buah fikiran demi melihat umat Islam terus bersatu. Siapa pula yang menjadi agen perpecahan umat Islam di Malaysia. Berhenti daripada saling salah menyalahkan, sebaliknya kudungkan tangan-tangan jahat mereka bisukan lidah-lidah jahat mereka.

Begitu juga isu umat Islam yang hidup melarat di Indonesia, hanya segelintir umat Islam di Malaysia yang memberi bantuan, itupun ketika selepas berlaku bencana gempa, tsunami atau gunung berapi.

Umat Islam di Singapura pula entah bagaimana kehidupan mereka di sana. Entah tertekan entah bahagia, kehidupan mereka tidak begitu diambil peduli oleh saudara Islam mereka di Malaysia atau Indonesia kerana beranggapan bahawa Singapura sebuah negara kaya dan beranggapan bahawa umat Islam di Singapura hidup bahagia kerana negaranya kaya.

Ingatkah kita kepada pesanan baginda Rasulullah mengenai perlunya kita menyayangi jiran-jiran kita? Jiran bukan sahaja bermaksud jiran di sebelah rumah, tetapi juga kampung di sebelah kampung kita, flat di sebelah flat kita, taman perumahan di sebelah taman perumahan kita, malah negara di sebelah negara kita yang ada umat Islam di dalamnya. Sedangkan baginda Rasulullah menyuapkan makanan ke dalam mulut seorang lelaki tua Yahudi yang setiap hari mengutuk baginda, inikan pula kita yang tidak mengambil tahu adakah jiran kita itu lapar atau kenyang, derita atau bahagia.

Perlukah kita bermusuhan sesama kita sedangkan tangan-tangan dan lidah-lidah mereka yang jahat itu ketawa melihat gelagat kita yang bermusuhan tidak berkesudahan?

Tangan-tangan jahat itu perlu dikudungkan, mulut-mulut jahat mereka perlu dibisukan. Tiada apa yang dapat membantah kalau kita bersatu tanpa bertelagah.

Anda tahu siapa musuh sebenar. Anda tahu semua yang berlaku itu angkara mereka.





Kudungkan tangan mereka, mulut mereka perlu dibisukan.





Bersatulah, demi membuatkan bibir Rasulullah tersenyum gembira melihat penyatuan kita semua.

14 Jan 2011

Steps Toward the Islamization of Knowledge

By Dr. Rosnani Hashim

A. Setting the Agenda

The first major step toward the Islamization of the curriculum is ensuring that the sources of educational purposes are drawn from the Islamic worldview, whether they be about the nature of the learner, the nature of the knowledge or the subject specialization, or contemporary life itself. The Holy Qur'an and the Sunnah of the Prophet should be the primary references in understanding the nature of the learner and knowledge, and results of empirical research - especially on the psychology of learning and the learner, which have been published and documented - should act as a complement.

The next step is the formulation of a clear philosophy of education based on the Islamic worldview. It is crucial to act as the educational guide for the state, school leaders, teachers, parents, and students.

Clear goals and objectives of education must be spelled out. They act as the "true North" of an educational compass and are vital in ensuring that the whole educational enterprise progresses toward achieving its intended goal and not wander about in search of direction. The concepts of `abd and khalifah have to be translated into operational terms. Those involved in drawing out policy and drafting the curriculum must be made aware of these important concepts. This does not mean that the curriculum of Islamic education is meant exclusively for Muslims, but due to the universality of Islam, Islamic education is applicable to and can accommodate all of mankind.

In this respect, the First World Muslim Conference on Muslim Education should be commended for coming up with a clear statement of an Islamic educational philosophy which aims:

at the balanced growth of the total personality of Man through the training of Man's spirit, intellect, rational self, feelings and bodily senses. The training imparted to a Muslim must be such that faith is infused into the whole of his personality and creates in him an emotional attachment to Islam and enables him to follow the Qur'an and the Sunnah and be governed by the Islamic system of values willingly and joyfully so that he may proceed to the realization of his status as the vicegerent of Allah to whom Allah has promised the authority of the universe.[1]

The third step is that the university or school curriculum should reflect the educational philosophy and, in fact, be the mechanism for achieving its goal. In particular, the hierarchy of knowledge (between fard 'ayn and fard kifayah) should be preserved in the curriculum. The revealed knowledge as core should permeate all subject matters or all faculties in the Muslim university. Therefore, a few courses from the revealed sciences have to be made into graduation requirements for all students, regardless of their specialization. The approach to teaching these sciences in the university definitely ought to be different from that of the schools, especially since university students are now more mature and capable of thinking and reflecting. Similarly, a few courses from the acquired sciences such as the natural sciences, the social sciences, and humanities must be required of our students, especially those specializing in the revealed sciences. A more integrated curriculum, but still possessing a core, should be adopted by schools and universities so that the problem of educational dualism is gradually eliminated. An integrated curriculum enables students to specialize in any of the revealed or acquired sciences from within the same school system. An effort ought to be made to introduce the Arabic language much earlier in the formal curriculum, especially since this is the universal language of Muslims and the language in which their knowledge is embedded.

B. Content and method

Knowledge, subject matters, or courses offered in the curriculum must be free from secular and Westernized elements that are alien to Islam. These elements - dualism, humanism, secularism, and tragedy - which are peculiarly Western and anti Islamic, must be isolated from our curriculum, then replaced with the Islamic worldview of tawhid (Oness of Allah). The curriculum should reinforce the following Islamic concepts:

1. The Islamic view of the Creator (tawhid, iman or faith, and God's attributes);

2. The creation of man and his purpose, namely, to worship Allah, to be His khalifah, to promote good and forbid evil, and to spread the message of Islam;

3. Man's relationship with the Creator, that is, his consciousness of Allah, accountability to Allah, to do good deeds, to worship and supplicate;

4. Man's relationship with others, which is to establish justice, to have respect for life, property, and dignity, to develop sound akhlaq (character traits), and to show religious tolerance;

5. Man's relationship with the environment which emphasizes his role as God's vicegerent, to work with harmony with all of Allah's creations, and to recognize or discover Allah through his creation;

6. Self-development, which provides room for self reformation and learning from past mistakes;

7. Man's destination, that is, to promote accountability by evaluating our role, understanding the Last Day and the Hereafter and their implications; and

8. Development of an Islamic ethos so as to create an environment conducive to Islamic practice.[2]

Therefore, it is obligatory for Muslim teachers to instill the Islamic concepts mentioned earlier in Muslim students, regardless of the subject matter they are teaching.

Inculcating these concepts and values indirectly through the subject matter, especially for the exact sciences such as mathematics or accounting, is not easy.[3] Therefore, teachers should inculcate them directly and through wisdom, especially when warranted by the classroom situation. This task should not be left to the teachers of Islamic revealed sciences alone.

Educational administrators and teachers should provide appropriate learning experiences, especially for moral and spiritual development.

New methods of instruction must be explored, and teachers or lecturers should be creative and innovative. The teaching of religious sciences must not be too dependent on traditional methods, such as memorization of classical texts, although certain fundamental knowledge needs to be memorized. Students must be exposed to the process of learning, including the scientific method and problem solving, and not just the product. Therefore, they need to be led to critical and sound thinking as called upon by Allah in the Qur'an. A balance must be struck between student centered and subject centered approaches. In this regard, an approach to teacher education that is consistent with the educational philosophy should be developed. The teacher education program pre-service and in-service - should also emphasize teacher personality development, in particular, the moral and spiritual, which have been nearly neglected. Teachers are the most crucial element in bringing changes in education, and they ought to know and be able to see the new direction. Pre-service teacher education programs seem to emphasize thinking skills and information technology but downplay the importance of foundations of education and personality development, especially moral and spiritual.[4]

C. Educational Evaluation

Evaluation is a powerful device for clarifying educational objectives. It is a process for finding out how far the learning experiences as developed and organized are actually producing the desired results and the process of evaluation will involve identifying the strengths and weaknesses of the plan.[5]

"Evaluation is the process for determining the degree to which changes in behavior are actually taking place."[6] Therefore it is important to dispel the notion that evaluation is synonymous with giving the "paper and pencil" test. Evaluation is also a powerful motivating force for learning. Students are influenced in their learning, and teachers are influenced in their teaching by the kind of evaluation expected.

Consequently, unless the evaluation procedure closely parallels the educational objectives of the curriculum, the evaluation procedure may become the focus of the students' attention and even of the teachers' attention rather than the curriculum objectives set up.[7]

This is true, especially with respect to moral and spiritual objectives. We should expect some changes in students' behavior since these are the objectives but, unfortunately, students will often score highly on paper and pencil tests but not exhibit the expected moral behavior. Thus the curriculum ought to be revised with respect to the learning experiences offered to them, the instructional method, and the kind of evaluation administered.


Dr. Rosnani Hashim Associate Professor in the Department of Education at the International Islamic University, Malaysia.

[1] S. M. Naquib alAttas (ed), Aims and Objectives of Islamic Education (Jeddah: King Abdulaziz University, 1979), 158-9. Italics added.

[2] I am indebted to the person who prepared and distributed this list during the Sixth World Conference on Islamic Education in Capetown, South Africa, 19-25 September 1996.

[3] See Rosnani Hashim, "Penyerapan Nilai Murni dalam KBSM" (The Inculcation of Moral Values in the Integrated Curriculum for Secondary Schools [KBSM]), paper presented at the National Seminar on Evaluation of the KBSM, Aminuddin Baki Institute, Layang Layang, Malaysia, 1997.

[4] The IIUM teacher education program does pay particular attention to these two domains of teachers' personality through formal halaqah (circles) and ibadah (worship) camp programs. In a halaqah, students are arranged in groups of 10 and each group meets weekly for at least an hour as scheduled in their class timetable to discuss selected topics of the 'ilm alShari'ah (science of Islamic law) of and group counseling. In the ibadah camp, which normally lasts for three days, students listen to talks, participate in workshops, perform congregational prayers, recite wird ma'thurat (daily session of frequently recited prayers) and the Qur'an and perform qiyam al-layl (night stand up prayer) together. See Rosnani Hashim, The Relevance and Effectiveness of the IIUM Diploma in Education Programme as Perceived by Student Teachers in the 1994/95 Session, unpublished research report. See also M. Sahari Nordin and Rosnani Hashim, "Non-formal Curriculum Programme in IIUM Diploma in Education Programme," paper presented at National Seminar on Teacher Education, Faculty of Education, University Putra Malaysia, 1997.

[5] Tyler, 103.

[6] Ibid., 106.

[7] Ibid., 124.

AZAB yang disediakan untuk diri...

Azab Neraka

Wahai diri yang tidak dapat menahan gigitan nyamuk dan serangga...bagaimana kamu dapat menanggung azabnya JAHANNAM !!!
(Petikan Tausiyyah Habib Omar Al Hafidz)


Email ini di hantar oleh seorang teman kepada saya. Bolehlah di kongsi bersama.

YA ALLAH YA RAHMAN YA RAHIM, lindunglilah dan peliharakanlah kami, kedua ibubapa kami, isteri kami, anak-anak kami, kaum keluarga kami & semua orang Islam dari azab seksa api nerakaMu YA ALLAH.

Sesungguhnya kami tidak layak untuk menduduki syurgaMu YA ALLAH, namun tidak pula kami sanggup untuk ke nerakaMu YA ALLAH.


Ampunilah dosa-dosa kami, terimalah taubat kami dan terimalah segala ibadah dan amalan kami dengan RAHMATMU YA ALLAH……AMIN. …

.: Luasnya Neraka :.

Yazid Arraqqasyi dari Anas bin Malik ra. berkata: Jibrail datang kepada Nabi
saw pada waktu yg ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh nabi s.a.w.: ‘Mengapa aku melihat kau berubah muka?’

Jawabnya: ‘Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yg mengetahui bahawa neraka Jahannam itu benar, dan siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman
dari padanya…’

Lalu nabi s.a.w.. bersabda: ‘Ya Jibrail, jelaskan padaku sifat Jahannam.’

Jawabnya: ‘Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama seribu tahun, sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarumnescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya.

Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan basinya. Demi Allah yg mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yg disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke tujuh.


Demi Allah yg mengutus engkaudengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa, nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, Jahannam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan-potongan api. Api neraka itu ada tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagiannya yang
tertentu dari orang laki-laki dan perempuan.’

Nabi s.a.w. bertanya: ‘Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah
kami?’ Jawabnya: ‘Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan 70,000 tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain70 kali ganda.’ (nota kefahaman: iaitu yg lebih bawah lebih panas)

Tanya Rasulullah s.a.w..: ‘Siapakah penduduk masing-masing pintu?’


Jawab Jibrail:

’Pintu yg terbawah untuk orang-orang munafik, dan orang-orang yg kafir setelah diturunkan hidangan mukjizat nabi Isa a.s. serta keluarga Fir’aun sedang namanya Al-Hawiyah.

Pintu kedua tempa torang- orang musyrikin bernama Jahim,

Pintu ketiga tempat orang shobi’in bernama Saqar.

Pintu ke empat tempat Iblis dan pengikutnya dari kaum majusi bernama Ladha,

Pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah..

Pintu ke enam tempat orang nasara bernama Sa’eir.’

Kemudian Jibrail diam segan pada Rasulullah s.a.w. sehingga ditanya:

‘Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ke tujuh?’Jawabnya: ‘Di dalamnya orang-orang yg berdosabesar dari ummatmu yg sampai mati belum sempat bertaubat.’

Maka nabi s.a.w. jatuh pingsan ketika mendengar keterangan itu, sehingga Jibrail meletakkan kepala nabi s.a.w. di pangkuannya sehingga sedar kembali dan sesudah sadar nabi saw bersabda: ‘Ya Jibrail, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari ummat ku yang akan masuk ke dalam neraka?’

Jawabnya: ‘Ya, iaitu orang yg berdosa besar dari ummatmu.’ Kemudian nabi s.a.w. menangis, Jibrail juga menangis, kemudian nabi s.a.w. masuk ke dalamrumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang kemudian kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila sembahyang selalu menangis dan minta kepada Allah.(dipetik dari kitab ‘Peringatan Bagi Yg Lalai’)


Dari Hadith Qudsi: Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahari Ku..

Tahukah kamu bahawa neraka jahanamKu itu:


1. Neraka Jahanam itu mempunyai 7 tingkat
2. Setiap tingkat mempunyai 70,000daerah
3. Setiap daerah mempunyai 70,000 kampung
4. Setiap kampung mempunyai 70,000 rumah
5. Setiap rumah mempunyai 70,000 bilik
6. Setiap bilik mempunyai 70,000 kotak
7. Setiap kotak mempunyai 70,000 batang pokok zarqum
8. Di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 ekor ular
9. Di dalam mulut setiap ular yang panjang 70 hasta mengandungi lautan
racun yang hitam pekat.
10. Juga di bawah setiap pokok zarqum mempunyai 70,000 rantai
11. Setiap rantai diseret oleh 70,000 malaikat

Mudah-mudahan ini dapat menimbulkan keinsafan kepada kita
semua…..Wallahua’ lam.

Al-Quran Surah Al- Baqarah Ayat 159

Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan dari keterangan-keterang an dan petunjuk hidayat, sesudah Kami terangkannya kepada manusia di dalam Kitab Suci, mereka itu dilaknat oleh Allah dan dilaknat oleh sekalian makhluk.


Dari Abdullah bin ‘Amr R.A,
Rasulullah S. A.W bersabda:’ Sampaikanlah pesanku biarpun satu ayat..


SEPULUH ORANG YANG MAYATNYA TIDAK BUSUK DAN TIDAK REPUT DI HARI QIAMAT KELAK!!!

Disebutkan di dalam satu riwayat, bahawasanya apabila para makhluk dibangkitkan dari kubur, mereka semuanya berdiri tegak di kubur masing- masing selama 44 tahun UMUR AKHIRAT dalam keadaan TIDAK MAKAN dan TIDAK MINUM, TIDAK DUDUK dan TIDAK BERCAKAP.

Bertanya orang kepada Rasulullah saw : ‘Bagaimana kita dapat mengenali ORANG-ORANG MUKMIN kelak di hari qiamat?’


Maka jawabnya Rasulullah saw ‘Umatku dikenali kerana WAJAH mereka putih disebabkan oleh WUDHU’.’ Bila qiamat datang maka malaikat datang ke kubur orang mukmin sambil membersihkan debu di badan mereka KECUALI pada tempat sujud. Bekas SUJUD tidak dihilangkan.

Maka memanggillah dari zat yang memanggil. Bukanlah debu ‘itu dari debu kubur mereka, akan tetapi debu itu ialah debu KEIMANAN’ mereka. Oleh itu tinggallah debu itu sehingga mereka melalui titian’ Siratul Mustaqim dan memasuki Alam SYURGA, sehingga setiap orang melihat para mukmin itu mengetahui bahawa mereka adalah pelayan Ku danhamba-hamba Ku.

Disebutkan oleh hadith Rasulullah saw bahawa sepuluh orang yang mayatnya TIDAK BUSUK dan TIDAK REPUT dan akan bangkit dalam tubuh asal diwaktu mati :-


1. Para Nabi
2. Para Ahli Jihad
3. Para Alim Ulama
4.. ParaS yuhada
5. Para Penghafal al QURAN
6. Imam atau Pemimpin yang Adil
7. Tukang Azan
8. Wanita yang mati kelahiran/beranak
9. Orang mati dibunuh atau dianiaya
10. Orang yang mati di siang hari atau di malam Jumaat itu dari kalangan orang yang beriman.

Didalam satu riwayat yang lain dari Jabir bin Abdullah ra sabda Rasulullah saw: Apabila datang hari QIAMAT dan orang-orang yang berada di dalam kubur dibangkitkan maka Allah swt memberi wahyu kepada Malaikat Ridhwan:


‘ Wahai Ridhwan, sesungguhnya Aku telah mengeluarkan hamba-hamba Ku berpuasa ( Ahli Puasa ) dari kubur mereka didalam keadaan letih dan dahaga. Maka ambillah dan berikan mereka segala makanan yang digoreng dan buah-buahan SYURGA. ‘


Maka Malaikat Ridhwan menyeru, wahai sekelian kawan-kawan dan semua anak-anak yang belum baligh, lalu mereka semua datang dengan membawa dulang dari nur dan berhimpun dekat Malaikat Ridhwan bersama dulang yang penuh dengan buahan dan minuman yang lazat dari syurga dengan sangat banyak melebihi daun-daun kayu di bumi.


Jika Malaikat Ridhwan berjumpa mukmin maka dia memberi makanan itu kepada mereka sambil mengucap sebagaimana yang difirman oleh Allah swt di dalam Surah Al-Haqqah bermaksud ; ’Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan AMAL yang telah kamu kerjakan pada HARI yang telah LALU itu.’

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Powered By Blogger